To Be (Married), or Not To Be (Married)
To be, or not tobe… - Hamlet, Shakespeare. klo gak salah =D
Terlepas dari inti cerita Hamlet - Maksudnya gak ngomongin Hamlet =P. langsung aja, bagi orang seumuran saya yang udah 30-an tapi belum married. Iklan rokok yang satu ini pasti agak gimana gitu =D.
Ringgo, kapan kawin??? May… May be yes, may be not…hhmmm.
Married, Rasulullah mewajibkan umatnya untuk menikah. Bagaimana yang bernasib sial sepertiku???? Adilkah ini??
Beberapa bulan belakangan ini, mungkin yang paling parah saat pulang kampung tahun kemarin. Dalam hidupku, terakhir kali ke Kebumen adalah saat usiaku 5 tahun. Berarti 24 tahun yang lalu.
Aku sendiri gak tau permasalahan sebenarnya or gak mau tahu juga kenapa sampai selama itu. keluargaku yang lain sering mengajakku untuk mudik, tapi selalu ada alasan bagiku untuk menolak ajakan itu.
Hingga tahun kemarin, gak tau ada angin apa, aku menerima ajakan mudik. Sehari setelah hari raya, kita bilangnya lebaran kedua, kami sekeluarga mudik. Dari Jakarta sekitar pukul 10 pagi dan tiba di Kebumen sekitar pukul 8 malam.
Saat mobil yang dikemudikan pamanku memasuki alun-alun Kebumen. Masih ada sedikit kenangan dari bocah lima tahun dalam diriku. Saat adik Mbahku mengajakku berkeliling alun-alun dengan sepeda ontelnya - sekarang sepeda motor yang berbaris di sekitar alun-alun.
Rumah Buyutku gak jauh dari alun-alun. Tiba di sana, kami mendapati dua bocah cilik - yang ternyata anak adik Mbahku yang dulu mengajakku berkeliling alun-alun, menangis di teras rumah.
Malam itu, bukannya acara kangen-kangenan atau apalah yang biasanya dilakukan oleh keluarga yang mudik ke kampung halaman, melainkan ada rasa gusar, gundah karena istri adik Mbahku mengabarkan kalau baru beberapa menit yang lalu Buyutku itu dilarikan ke rumah sakit.
Sakit perut katanya. Baru sore tadi kejadiannya, tapi habis maghrib tadi kondisinya semakin parah hingga terpaksa dibawa ke RS. Lalu aku dan beberapa keluargaku lainnya meyusul ke RS.
Di salah satu kamar RSUD Kebumen, Buyutku terbaring lemah. Dia mencoba mengenali anak, cucu dan buyutnya satu persatu. Akhirnya tiba giliranku menyalaminya. Aku ragu apa dia bisa mengenaliku yang tentu saja sudah banyak perubahan sejak 24 tahun silam.
Tapi dugaanku salah, saat bersalaman dia yang langsung menyapaku (pakai bahasa Jawa tentunya dan aku gak terlalu bisa dan mengerti bahasa Jawa =P). Iki Yudha… kira-kira begitu sapanya,aku kaget dari mana dia bisa mengenaliku?? "Bojone, ndi??"tanya beliau berikutnya dan beberapa ucapan lainnya yang aku gak terlalu paham artinya.
Ups!! Aku terhenyak dan tak tau harus bilang apa… Selanjutnya ibuku yang menjawab pertanyaan itu (dalam bahasa Jawa) yang intinya adalah meminta do’a dari buyutku agar aku bisa segera menemukan pasangan hidupku dengan tak lupa menyebutkan kriterianya. - satu hal yang aku herankan dari do’a orangtua, kenapa selalu meminta kriteria dari calon pendamping hidup anak-anaknya.
kenapa tidak dibiarkan jalan hidup yang menentukannya?? Mungkin kelak kalau aku sudah menikah dan punya anak, bisa memahami dan mungkin juga akan bersikap seperti itu.
Keesokan harinya, selepas Ashar, buyutku menghembuskan nafas terakhirnya.
bersambung…